Hari ini kamu tertawa lebar di dalam hati.
Chat berbunyi “maaf kak sold out ya” padahal kamu tahu betul masih ada stok—cuma penjualnya ogah jual ke kamu karena rating-mu jelek, atau karena kamu pernah minta potongan harga yang terlalu sadis, atau karena kamu pernah cancel order di detik terakhir setelah barang sudah dipacking. Tapi hari ini kamu berhasil lagi. Dengan akun baru, nama baru, nomor baru, foto profil stok cowok ganteng atau cewek imut yang bukan kamu, akhirnya penjual itu lengah. Dia kirim barangnya. Kamu berhasil “menang”. Kamu screenshot chat itu, kirim ke temen grup, ketik “auto mampus nih om-om, ketipu gw wkwkwk”. Semua ketawa. Rasa puas mengalir hangat di dada. Rasanya seperti membuktikan bahwa kamu lebih pintar daripada sistem, lebih licik daripada orang lain.
Kamu merasa powerful.
Kamu merasa ini cuma permainan kecil di dunia maya. Toh penjual juga kan pedagang—mereka pasti sudah terbiasa ditipu, dibohongi, dimanfaatkan. Lagian apa sih rugi segitu-gitu doang buat mereka? Mereka kan punya ratusan transaksi sehari. Kamu cuma satu butir debu di antara lautan pesanan mereka.
Begitu pikirmu.
Tapi suatu hari—entah tiga bulan, entah dua tahun lagi—kamu akan membuka aplikasi yang sama dengan perasaan berbeda.
Kamu lagi butuh sesuatu yang sangat spesifik. Bukan barang murah yang ada di mana-mana. Bukan barang generik yang bisa dibeli di toko sebelah. Barang ini langka. Mungkin spare part mesin tua yang sudah tidak diproduksi pabrik. Mungkin figurine limited edition yang cuma dilepas 300 pcs di dunia. Mungkin kain tenun dari satu-satunya penenun di desa terpencil yang masih bertahan. Mungkin obat herbal yang diracik khusus oleh Mbok Jamu langganan yang nomor HP-nya cuma satu itu. Atau mungkin hanya sepatu second original ukuran 44 yang kondisinya mint dan ukurannya pas di kakimu yang susah sekali dapatnya.
Kamu cari di mana-mana. Scroll berjam-jam. Tanya sana-sini. Akhirnya ketemu juga: penjual itu. Nama tokonya, foto produknya, ulasan pembeli lain—semuanya familiar. Terlalu familiar.
Kamu buka chat. Jantungmu tiba-tiba berdetak agak kencang.
Kamu ketik sapaan sopan. “Selamat malam kak, barangnya ready ya?”
Dibaca.
Tidak dibalas.
Besoknya kamu coba lagi. Kali ini lebih manis. Tambah emoji hati. Masih dibaca, masih tidak dibalas.
Hari ketiga kamu mulai panik. Kamu sadar: akun ini pernah kamu pakai dulu. Mungkin pernah minta free ongkir. Mungkin pernah bilang “kirim cepet dong, lama amat” padahal baru 2 jam. Mungkin pernah cancel setelah COD. Mungkin pernah kasih rating 1 bintang dengan review pedas meskipun barangnya sesuai deskripsi.
Penjual itu tidak bodoh. Dia ingat.
Banyak penjual kecil-kecilan sekarang punya “daftar hitam” di catatan HP-nya, di Google Sheets, atau bahkan di grup komunitas sesama seller. Nama kamu, nomor kamu, pola chat kamu—semuanya sudah terekam.
Kamu coba akun lain. Tapi kali ini penjualnya lebih cerdas. Dia minta video call verifikasi. Atau minta foto KTP. Atau minta kirim voice note. Dia sudah kapok dipermainkan berkali-kali.
Akhirnya kamu menyerah. Barang itu tetap tidak bisa kamu dapatkan.
Dan di situlah air mata itu datang—bukan karena sedih kehilangan barang semata, tapi karena menyadari sesuatu yang jauh lebih menyakitkan:
Kamu telah membakar jembatan yang suatu hari sangat kamu butuhkan.
Kamu tertawa hari ini karena merasa menang atas satu orang.
Kamu akan menangis nanti karena kalah dari dirimu sendiri.
Bukan penjual yang memblokir kamu.
Kamu yang memblokir dirimu sendiri dari kepercayaan, dari relasi, dari kesempatan yang sebenarnya tidak banyak di dunia ini.
Karena di dunia nyata maupun dunia online, hampir semua hal berharga akhirnya bergantung pada satu kata yang sederhana tapi mahal:
kepercayaan.
Dan kepercayaan itu tidak bisa dibeli dengan akun baru, nomor sementara, atau kata-kata manis dadakan.
Ia dibangun perlahan, atau dihancurkan sekali saja.Jadi hari ini, saat kamu lagi tersenyum kecil karena berhasil “mengakali” seseorang,
coba tanyakan pada dirimu sendiri: “Apa yang akan aku lakukan kalau besok pagi aku benar-benar butuh orang ini, tapi orang ini sudah tidak mau lagi berurusan denganku?”
Jawabannya seringkali membuat senyum itu perlahan memudar.
Dan kalau sudah begitu, baru kamu mengerti:
kemenangan kecil hari ini, bisa jadi kekalahan besar yang kamu tanggung sendiri di hari esok.
Selamat menikmati tawamu hari ini.
Semoga nanti kamu tidak perlu menangis terlalu lama.
Hasil AI: Teks ini dibuat dan dirancang oleh Grok (xAI).